Teluk Palas Terancam Karena Abrasi



Teluk Palas Terancam Karena Abrasi - Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir harus mengambil langkah sigap. Pasalnya pinggiran pantai Kepenghuluan

Telukpalas, Panipahan Laut, Kecamatan Pasir Limaukapas saat ini tengah dilanda pengikisan (abrasi).

Jika dibiarkan dapat mengancam hilangnya salah satu daerah di kawasan pesisir itu.

Sebab itu pemerintah daerah harus segera memasang turap pongairan di kawasan itu guna menghentikan

abrasi.

Demikian disampaikan Anggota DPRD Dapil Kecamatan Pasir Limaukapas, Bachtiar pada KR ketika ditemui

akhir pekan lalu. Kata Bachtiar, dalam setahun saja pinggiran daerah yang berbatasan dengan laut itu

hilang akibat terkikis abrasi sekitar 10 s,d 15 meter. Untungnya, warga yang berdomisili didaerah

tersebut hidupnya berpindah-pindah karena bergantung dengan hasil bumi seperti bercocok tanam padi dan

berkebun, sehingga belum ada rumah warga yang terkena akibat dampak buruk dari abrasi ini.

"Saya juga salah satu warga yang dulunya berdomisili didaerah ini, Namun kini saya sudah berpindah

kedaerah lain. Kalau saya masih bertempat tinggal disini dan masih menetap ditempat saya dulunya,

mungkin rumah saya sudah terbawa abrasi,"ujar Bachtiar.

Diterangkan Bachtiar lagi, hingga saat ini, semua masyarakat didaerah ini sudah tiga kali berpindah

tempat karena ditempat lama mereka tinggal lahanya tidak bisa lagi diolah karena air pasang laut sudah

sampai kedarat tempat mereka bercocok tanam sehingga tidak ada lahanya tidak bagus lagi bila ditanam.

"Sekarang ini sudah tidak ada lagi lahan baru untuk diolah. Lahan yang ditempati sekitar 200 Kepala

Keluarga (KK) ini saja juga tidak bagus lagi diolah karena air pasang juga sudah sampai kedarat.

Makanya langkah tepat yang harus diambil iyalah dengan membangun turap dipingiran daerah ini dengan

panjang sekiat 5 kilo meter. Dan pembangunan turap ini kita harapkan dapat dilakukan oleh Pemerintah,

karena hanya pemerintah saja yang mampu melakukan hal itu,"ujar Bachtiar seraya berharap banyak

terhadap pemerintah setempat.

Abrasi yang sudah berlangsung sejak 33 tahun lalu ini jelas Bachtiar, selain mengancam perekonomian

masyarakat dan pemukiman penduduk, juga dapat menghanyutkan satu unit gedung SMP Negri yang baru saja

dibangun sejak 6 tahun lalu. Apabila tidak dibuat turap, dalam tempoh waktu lima tahun saja gedung

sekolah ini akan roboh dan tidak bersisa lagi.

"Sementara bangunan ini terus mendapatkan bantuan tambahan gedung dari pemerintah setiap tahunya.

Alangkah sayangnya jika bangunan sekolah ini nantinya roboh dan tak dapat lagi dimanfaatkan untuk

proses belajar mengajar,"ujar Bachtiar.

Selain Gedung SMPN, di daerah ini juga berdiri bangunan MTS. "Tak ada upaya lain selain membangun

turap. Karena bisa jadi kedua bangunan sekolah ini hanyut dibawa abrasi. Sebenarnya didaerah ini sudah

dibangun turap bantuan dari pemerintah pusat. Hanya saja turap itu hanya beberapa meter saja dan tidak

mampu menyalamatkan semua pingiran daerah ini,"ujar Bachtiar.

Sementara itu, aset yang sudah tak dapat digunakan lagi akibat dampak abrasi ini adalah satu unit

pelabuhan rakyat, yang dibangun sekitar empat tahun lalu.

"Sekarang pelabuhan tersebut tidak bisa dipakai lagi karena akses jalan menuju pelabuhan ini sudah

putus. Bukan hanya itu saja, yang paling parahnya lagi tempat pemakaman. Karena pemakaman didaerah ini

juga sudah habis terkikis abrasi,"katanya.

Selain turap langkah lain yang harus diambil iyalah berupa penanaman pohon bakau disepanjang pingiran

daerah ini. "Dengan begitu diyakini mampu mempertahankan pingiran daerah ini dari abrasi,"katanya

lagi

0 komentar:

Poskan Komentar