Panipahan Penghasil Ikan Laut Terbesar Setelah Norwegia


Panipahan

Panipahan Penghasil Ikan Laut Terbesar Setelah Norwegia - Tak terbantahkan jika perairan Selat Malaka sejak dahulu memiliki potensi alam yang kaya dengan berbagai spesies laut, mulai dari ikan dengan berbagai jenis atau spesies, udang, kerang dan lain sebagainya. Dari perairan ini juga muncul hasil-hasil laut bernilai jual tinggi yang dipasarkan ke berbagai negara di dunia ini. Bahkan perairan Selat Malaka menjadi sumber penghasilan utama masyarakat setempat.
Masyarakat di Kecamatan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau salah satu yang memanfaatkan kekayaan sumber daya alam (SDA) dari perairan Selat Malaka ini. Itu juga yang menjadikan daerah ini sejak dahulu hingga sekarang terkenal sebagai pengekspor ikan terbesar di Indonesia. Bahkan nomor dua sebagai penghasil ikan di dunia setelah Norwegia.

Bayangkan saja, ekspor ikan laut nelayan Panipahan ke Malaysia untuk saat ini mencapai 20 ton per tiga hari. Sementara untuk jenis lokal yang dipasok ke Tanjungbalai mencapai 5 ton per hari. “Untuk ekspor ke Malaysia 20 ton per tiga hari. Untuk Tanjungbalai 5 ton perhari,” ungkap Alim, salah seorang penampung ikan laut kepada saat MedanBisnis, akhir November lalu di Panipahan.

Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan setempat menurutnya diekspor ke Malaysia dengan memanfaatkan jasa angkutan kapal ekspedisi pengangkutan 200 fiber ikan. “Jenis ikan yang paling dominan dihasilkan perairan Panipahan yakni ikan senangin selebihnya ikan bawal, gembung, udang kelong dan beberapa jenis lainnya,” terangnya.

Ikan yang diekspor merupakan hasil terbaik dari seleksi yang dilakukan. “Untuk ekspor minimalnya ikan senangin yang berbobot minimal satu ons per ekor,” jelasnya lagi.

Tak hanya ikan, kerang dan udang juga banyak terdapat di perairan itu. Kualitasnya juga  sama dengan ikan yang diekspor. Untuk udang, yang banyak ditemukan adalah jenis eiko. Bahkan udang eiko ini merupakan jenis udang kebangaan masyarakat daerah itu.

“Sebutan udang eiko ini cukup banyak, ada yang menyebutnya dengan udang lipan, udang mentadak atau udang ronggeng. Namun yang jelas udang laut ini sangat banyak diperdagangkan. Begitu juga dengan peminatnya, sangat banyak,” ucap Alim.

Secara fisik, udang lipan memiliki tampilan fisik yang unik. Sekilas tampak menyerupai lipan dan tak mirip dengan udang kecuali karena memiliki capit seperti udang lainnya. Biasanya udang jenis ini banyak terdapat di wilayah kepulauan dengan ukuran tubuh rata-rata mencapai 30 cm lebih dengan bobot berkisar antara 20 – 200 gr per ekor,” ujarnya.

Tidak hanya itu, mulai dari kepala, kedua sisi tubuhnya, sampai ekor memiliki senjata yang sangat tajam. Sehingga perlu kehati-hatian ketika menangkap jenis udang ini. “Jika tidak, kulit tangan kita bisa-bisa kena jepit. Parahnya, dapat menimbulkan demam dan bahkan mengakibakan pembengkakan pada bekas luka jepitan,”  kata Alim.

Walaupun bentuknya menyeramkan, udang jenis ini rasanya sangat lezat dan gurih. Itu  juga yang menjadikan harga udang ini lumayan mahal apalagi kalau sudah disajikan di restauran. “Jadi, tak heran jika kita berkunjung ke daerah Panipahan akan disuguhi berbagai jenis hasil laut dengan beragam masakan. Dan, rasanya luar biasa, lezatnya,” kata Alim sembari tersenyum.

Selain memiliki rasa yang enak, udang ini juga memiliki mitos bagi warga sekitar Panipahan dan kawasan lainnya yang memiliki ketersediaan jenis udang tersebut.

Ada yang mengatakan apabila mengonsumsi udang ini khususnya kaum pria bisa menambah keperkasaan. “Tentu saja hal itu masuk di akal, karena udang ini memiliki kadar protein yang tinggi, sebut Alim.

0 komentar:

Poskan Komentar